Percaya penuh pada rencana Allah seperti Nabi Ibrahim a.s.
Dalam kehidupan, seringkali kita merasa cemas dan tidak berdaya saat menghadapi situasi yang di luar kendali kita. Kita bertanya-tanya, “Mengapa ini terjadi pada saya?” atau “Apa yang harus saya lakukan sekarang?” Di sinilah pentingnya keyakinan yang mendalam keyakinan bahwa di balik setiap tantangan, ada rencana Allah yang Maha Indah. Tidak ada kisah yang lebih baik untuk mengajarkan kita tentang percaya penuh pada rencana Allah.
Nabi Ibrahim a.s. adalah sosok yang diuji dengan cobaan yang seolah tak masuk akal, namun ia selalu meresponsnya dengan kepatuhan total dan keimanan yang tak tergoyahkan. Setiap perintah Allah, seberat apa pun itu, diterimanya dengan hati yang lapang, karena ia tahu bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya.
Ujian Nabi Ibrahim a.s
Salah satu ujian terberat yang dihadapi Nabi Ibrahim adalah perintah Allah untuk meninggalkan istri tercinta, Siti Hajar, dan putranya yang masih bayi, Ismail, di sebuah lembah kering dan tandus, yang kini dikenal sebagai Mekah. Tidak ada air, tidak ada makanan, dan tidak ada penduduk. Secara logika, ini adalah tindakan yang kejam dan mustahil. Namun, saat Siti Hajar bertanya, “Apakah ini perintah dari Allah?” Nabi Ibrahim menjawab “Ya.” Seketika, Siti Hajar berkata, “Jika demikian, Dia tidak akan pernah menelantarkan kami.”
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (kering), di sisi rumah-Mu yang dihormati (Ka’bah). Ya Tuhan kami, (aku lakukan itu) agar mereka mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
Apa yang dapat kita pelajari?
Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan kita bahwa percaya penuh pada rencana Allah adalah inti dari keimanan.
- Lepaskan Kendali: Sadarilah bahwa kita tidak bisa mengendalikan segalanya. Serahkanlah hasil terbaik kepada Allah setelah kita berusaha semaksimal mungkin.
- Lihat Hikmah di Balik Musibah: Yakinlah bahwa setiap kesulitan adalah kesempatan untuk tumbuh, dan setiap penundaan adalah cara Allah mempersiapkan kita untuk sesuatu yang lebih baik.
- Berdoa dan Berserah: Doa adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan Allah. Berserah diri setelah berdoa adalah bukti bahwa kita mempercayai-Nya untuk mengatur segala urusan kita.