Larangan Berkata Kasar dalam Islam
Dalam ajaran Islam, tutur kata mencerminkan akhlak seseorang. Berkata lembut dan menjaga lisan adalah ciri dari orang yang beriman dan bertakwa. Sebaliknya, berkata kasar, kotor, atau menyakitkan hati orang lain sangat dilarang dalam Islam. Perkataan yang buruk bukan hanya menyakiti orang lain, tetapi juga bisa menjadi sebab tertolaknya amal kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:
“Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, melaknat, berkata kasar, dan berkata kotor.” (HR. At-Tirmidzi, no. 1977), hadis ini menunjukkan bahwa perkataan kasar bukan hanya sekadar dosa sosial, tetapi juga mencerminkan ketidaksempurnaan iman seseorang. Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai pribadi yang lembut dalam tutur kata, bahkan kepada orang yang membencinya. Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berkata keji dan kasar.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Bahaya dan Dampak Berkata Kasar
Merusak hubungan sosial dan ukhuwah.
Kata-kata kasar bisa menimbulkan permusuhan dan menjauhkan orang dari kita.
Menodai akhlak dan kepribadian.
Seorang Muslim yang baik tidak akan mudah mengumbar kemarahan dalam bentuk ucapan yang menyakitkan.
Mengurangi pahala amal.
Lisan yang tidak dijaga bisa menjadi sebab amal-amal lainnya tidak diterima, karena menyakiti sesama manusia.
Keutamaan Menjaga Lisan dan Berkata Baik
Allah SWT berfirman:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (kepada sesama manusia)’…” (QS. Al-Isra: 53)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menjaga lisan adalah bagian dari keimanan, dengan berkata baik kita bisa mempererat hubungan dengan sesame, mendapatkan pahala dari setiap kata yang baik, menciptakan lingkungan yang penuh ketenangan dan kasih sayang.
Islam adalah agama yang sangat memperhatikan akhlak dan adab. Salah satu cerminan akhlak adalah bagaimana kita menggunakan lisan kita. Jadikanlah lisan sebagai sarana menyebarkan kebaikan, bukan alat menyakiti sesama. Dengan menjaga perkataan, kita tidak hanya menjaga hubungan dengan manusia, tetapi juga menjaga hubungan dengan Allah SWT.