Cara Mengenali Hadis Shahih Dan Dhaif

Mengetahui apakah suatu hadis shahih (autentik) atau dhaif (lemah) adalah ilmu penting dalam Islam, terutama agar tidak salah dalam mengamalkan ajaran agama, setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, para sahabat meriwayatkan sabda dan perbuatan Nabi kepada generasi berikutnya (tabi’in) secara lisan. Karena penyampaian secara manusiawi, bisa terjadi Kesalahan dalam mengingat, lupa sanad, penambahan atau pengurangan isi bahkan, ada orang yang memalsukan hadis dengan tujuan tertentu, berikut adalah cara mengenali hadist shahih dan dhaif secara umum:
Ciri-Ciri Hadis Shahih
Hadis disebut shahih jika memenuhi lima syarat utama menurut para ulama hadis:
1. Sanad-nya bersambung (ittisal sanad):
Semua perawi (periwayat) hadis saling bertemu dan menerima langsung dari gurunya, tidak ada yang terputus.
2. Perawinya adil:
Setiap perawi memiliki akhlak yang baik, jujur, bertakwa, dan tidak dikenal sebagai pendusta atau pelaku maksiat besar.
3. Perawinya dhabith (kuat hafalan/ingatan):
Para perawi harus memiliki kemampuan menghafal dan menyampaikan hadis dengan tepat, atau menulis hadis dengan ketelitian tinggi.
4. Tidak ada syadz (menyelisihi perawi lain yang lebih kuat):
Hadis tersebut tidak bertentangan dengan riwayat lain yang lebih kuat atau lebih terkenal.
5. Tidak ada ‘illah (cacat tersembunyi):
Tidak ada kecacatan tersembunyi dalam sanad atau matan (isi hadis) yang bisa menjatuhkan keabsahannya.
Ciri-Ciri Hadist Dhaif
Hadis disebut dhaif (lemah) jika satu atau lebih dari lima syarat hadis shahih tidak terpenuhi, misalnya:
1. Sanad terputus (munqathi’):
Ada perawi yang tidak diketahui atau tidak sempat bertemu, seperti “tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi” (padahal tidak mungkin).
2. Perawi tidak adil:
Misalnya diketahui suka berdusta, tidak jujur, fasiq, atau pelaku bid’ah yang ekstrim.
3. Perawi kurang kuat hafalan:
Banyak salah dalam meriwayatkan hadis, tidak mampu menjaga hafalannya.
4. Mengandung syadz:
Menyelisihi hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi yang lebih tsiqah (terpercaya).
5. Ada ‘illah (cacat tersembunyi):
Misalnya matannya aneh, atau sanadnya tampak bagus tetapi ternyata setelah diteliti ada kekeliruan.
Cara Mudah membedakan Hadist Sahih Dan Dhaif:
- Perhatikan Sumber Hadis
Sumber Hadis Tingkat Kekuatan
Shahih Bukhari: Shahih (paling tinggi)
Shahih Muslim: Shahih
Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah: Bisa shahih, hasan, atau dhaif (perlu dicek penilaian ulama)
2. Gunakan Aplikasi atau Situs Takhrij Hadis bagi Masyarakat awam
Lidwa Pusaka (Ensiklopedi Hadis), Sunnah.com, Al-Maktabah Syamilah (untuk pelajar tingkat lanjut), Hadisweb.id atau Muslim.or.id untuk artikel dengan referensi, Cukup ketik sebagian hadis → lihat statusnya: Shahih Hasan (cukup) Dhaif (lemah) Maudhu’ (palsu)
3. Perhatikan Penilaian Ulama Hadis
Hadis sering diberi label oleh ulama seperti:
Shahih: Kuat, bisa diamalkan
Hasan: Cukup kuat, bisa diamalkan
Dhaif: Lemah, tidak bisa jadi hujjah kecuali dalam fadhilah amal (dengan syarat)
Maudhu’: Palsu, haram diamalkan dan disebarkan
Contoh ulama yang sering menilai hadis:
– Imam Bukhari & Muslim
– Imam Nawawi
– Al-Albani (ahli hadis kontemporer)
– Ibn Hajar al-Asqalani
– Adz-Dzahabi
4. Pelajari Syarat Hadis Shahih (untuk Tingkat Lanjut)
berikut 5 syarat hadis shahih:
1. Sanad bersambung
2. Perawi adil
3. Perawi dhabith (kuat hafalan)
4. Tidak syadz (tidak menyelisihi yang lebih kuat)
5. Tidak ada ‘illah (cacat tersembunyi)
Jika salah satu syarat itu tidak terpenuhi, maka hadisnya bisa jadi dhaif atau maudhu’.
5. Waspadai Hadis Populer tapi Tidak Shahih
Contoh hadis dhaif/palsu yang sering beredar:
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” (derajatnya lemah)
“Hubbul wathan minal iman” (Cinta tanah air bagian dari iman) bukan hadis.
Dengan begitu kita sebagai muslim yang taat harus mengetahui perbedaan hadis shahih dan dhaif, agar tidak salah dan keliru dalam mengamalkan ajaran agama islam, agar ibadah kita benar, menjadi muslim yang berilmu, melindungi agama dari penyimpangan dan lain sebagainya, semoga Allah selalu menjaga kita dari kekeliruan kekeliruan yang menyimpang.