Belajar Tawakal dari Kisah Nabi Musa dalam Islam
Tawakal adalah sikap menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT setelah berusaha dengan sungguh-sungguh. Dalam Al-Qur’an, banyak kisah para nabi yang menjadi teladan tentang bagaimana mereka bertawakal, salah satunya adalah kisah Nabi Musa AS. Dari perjalanan hidupnya, kita dapat belajar makna tawakal yang sesungguhnya.
Kisah Nabi Musa dan Firaun
Nabi Musa diutus Allah untuk menghadapi Firaun, penguasa yang zalim dan sombong. Firaun bukan hanya menolak ajakan Nabi Musa untuk beriman, tetapi juga berusaha membunuhnya. Namun, Nabi Musa tidak gentar. Ia tetap berpegang pada perintah Allah sambil bertawakal penuh.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:”Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berfirman: Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu yang paling unggul (menang).” (QS. Thaha: 67-68). Ayat ini menunjukkan bahwa meski manusiawi merasa takut, Nabi Musa menenangkan hatinya dengan tawakal kepada Allah.
Ketika Dikejar di Laut Merah
Salah satu momen paling terkenal adalah ketika Nabi Musa bersama Bani Israil dikejar oleh pasukan Firaun. Di depan terbentang laut, sementara di belakang ada musuh yang siap membunuh. Dalam keadaan genting itu, Nabi Musa tetap bertawakal.
Beliau berkata: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 62). Keyakinan Nabi Musa dibalas dengan pertolongan Allah, yaitu mukjizat terbelahnya Laut Merah sehingga beliau dan kaumnya selamat.
Makna Tawakal dari Kisah Nabi Musa
Dari kisah Nabi Musa, ada beberapa pelajaran tentang tawakal: Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, Nabi Musa tetap melangkah, berdakwah, dan membawa Bani Israil keluar dari Mesir, tawakal menenangkan hati, meski dalam kondisi sulit, keyakinan kepada Allah membuat Nabi Musa tidak putus asa, pertolongan Allah selalu datang, ketika semua jalan tampak tertutup, Allah membuka jalan yang tidak pernah disangka, seperti laut yang terbelah.
Relevansi Tawakal dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan modern, kita sering menghadapi kesulitan: masalah pekerjaan, keluarga, ekonomi, atau ujian hidup lainnya. Belajar dari Nabi Musa, kita diajarkan untuk:
Berusaha maksimal sesuai kemampuan.
Tidak mudah putus asa meski keadaan tampak mustahil.
Menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada Allah SWT.
Tawakal adalah kunci kekuatan hati dan sumber ketenangan jiwa. Nabi Musa AS telah memberikan teladan bahwa dengan tawakal, manusia bisa menghadapi tantangan hidup sebesar apapun. Pertolongan Allah tidak pernah terlambat, asalkan kita benar-benar bersandar kepada-Nya.