Bahaya Takabur dan Cara Menghindarinya dalam Islam

Dalam Islam, takabur berasal dari kata kibr yang berarti kesombongan. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa takabur adalah sikap merasa diri lebih tinggi dibanding orang lain, baik dalam hal ilmu, harta, nasab, kedudukan, atau ibadah, disertai merendahkan orang lain. Rasulullah SAW menjelaskan dengan sangat jelas: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim). Artinya, takabur bukan sekadar bangga terhadap pencapaian, tetapi lebih kepada sikap hati yang menganggap dirinya di atas orang lain dan menolak kebenaran hanya karena merasa dirinya lebih baik.
Islam melarang takabur dengan tegas, baik dalam Al-Qur’an maupun hadits.
Allah berfirman: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37). Ayat ini mengingatkan bahwa manusia sangat terbatas kemampuannya, sehingga tidak pantas bersikap sombong.
Bahaya Takabur
a. Menghapus Nilai Amal Ibadah
Kesombongan dapat membuat amal ibadah tidak bernilai di sisi Allah, karena hilangnya keikhlasan. Orang yang sombong biasanya beramal untuk pujian manusia, bukan untuk Allah.
b. Menutup Pintu Hidayah
Orang yang takabur cenderung menolak nasihat dan kebenaran. Fir’aun, misalnya, menolak ajakan Nabi Musa ‘alaihis salam karena merasa dirinya lebih berkuasa.
c. Penyebab Terlaknatnya Iblis
Iblis dilaknat Allah karena takabur. Ia menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam ‘alaihis salam dengan alasan merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah (QS. Al-A’raf: 12).
d. Merusak Hubungan Sosial
Takabur membuat seseorang sulit diterima di tengah masyarakat, memicu iri, benci, dan memutus tali silaturahmi.
e. Membawa kepada Kehinaan di Akhirat
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam bentuk manusia. Mereka diliputi kehinaan dari segala sisi.” (HR. Tirmidzi)
Tanda-Tanda Seseorang Terkena Sifat Takabur
a. Sulit menerima kritik atau nasihat.
b. Merasa paling benar dan meremehkan pendapat orang lain.
c. Sering membandingkan diri dengan orang lain untuk merasa lebih unggul.
d. Mengungkit-ungkit kebaikan atau jasa yang pernah diberikan.
e. Menolak mengakui kesalahan meskipun jelas terbukti salah.
Cara Menghindari Takabur
a. Menyadari Semua Nikmat dari Allah
Setiap kelebihan adalah karunia Allah, bukan semata hasil usaha kita. Kesadaran ini akan menumbuhkan rasa syukur dan mengikis kesombongan.
b. Mengingat Asal Usul dan Akhir Kehidupan
Manusia berasal dari tanah, lahir tanpa membawa apa-apa, dan akan kembali ke tanah. Mengingat kematian adalah cara paling efektif untuk meruntuhkan sifat sombong.
c. Membiasakan Tawadhu’
Rendah hati adalah lawan dari takabur. Rasulullah SAW, meski sebagai manusia termulia, tetap membantu pekerjaan rumah, duduk bersama rakyat biasa, dan makan di lantai.
d. Berkumpul dengan Orang Shalih
Lingkungan berpengaruh besar pada hati. Bergaul dengan orang yang rendah hati akan menular pada perilaku kita.
e. Melatih Diri Menerima Kebenaran
Terbuka terhadap nasihat, meskipun datang dari orang yang lebih muda atau memiliki kedudukan di bawah kita.
f. Memperbanyak Dzikir dan Doa
Doa seperti: “Allahumma inni a’udzu bika min syarri nafsi wa min syarri kulla dabbatin anta akhidhun binashiyatiha” dapat membantu menjaga hati dari kesombongan.
Takabur adalah penyakit hati yang berbahaya karena dapat menghapus amal, menutup pintu hidayah, dan menjerumuskan ke dalam murka Allah. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu bersikap tawadhu’, menyadari semua nikmat berasal dari Allah, dan menempatkan diri sebagai hamba yang membutuhkan pertolongan-Nya. Orang yang rendah hati tidak akan kehilangan kehormatan—justru akan semakin dimuliakan di mata Allah dan manusia.